Masyarakat dan Kemiskinan
Musibah tak kunjung berhenti pada negeri ini, menghantam
sendi – sendi kehidupan secara perlahan – lahan, sedikit demi sedikit. Entah
itu yang dibuat olehNya maupun yang sengaja diciptakan agar menciptakan
berbagai dinamika kehidupan Salah satunya ini menciptakan kemiskinan, entah kemiskinan hasil dari dirinya sendiri atau kemiskinan structural yg dibuat utk memperkaya kaum pemodal. Kemiskinan adalah hal menarik utk dijadikan penelitian empiris dari berbagai kalangan akademisi untuk menciptakan berbagai tema,
seminar, dan sarasehan yang tentu akan menguntungkan mereka. Sekian dana digelontorkan, ribuan ahli dari berbagai keahlian diturunkan, menciptakan gagasan – gagasan pengentasan kemisikinan, ekonomi berdikari justru berangkat
dari tema kemiskinan.
Masyarakat yang menunggu cemas dan berharap bahwa yg dilakukan mereka adalah kebaikan untuk mereka karena bertahun-tahun hidup dalam alas kemiskinan berselimutkan penderitaan. Masyarakat yang sudah jengah hidup dalam kepungan janji-janji politik yg pada akhirnya tak terealisasi. Mereka tetap miskin dan harapan hidup lebih baik, hanya tinggal angan.
Masyarakat yang pada akhirmya jadi korban angin surga para pemain dikalangan elite. Masyarakat yang tak henti-hentinya dijadikan alat untuk mereka yang memperebutkan kursi. Masyarakat hanya objek nafsu pelampiasan oleh subyek mereka yg haus kekuasaan. Dan akhirnya masyarakat hanya tinggal hidup dan menikmati udara sesak kemiskinan hingga mati berkalang tanah, karena tak sanggup membayar tempat tinggal terakhirnya.
Masyarakat selalu dikalahkan yg selalu menjadi korban keganasan para pendulang derita, lebih khusus lagi masyarakat yang dipiinggirkan, hati dan nuraninya. Sejarah menciptakan endapan – endapan kolektif agar masyarakat ini selalu terpinggirkan. Tidak disisakan secerca harapan dan asa untuk melanjutkan kehidupan. Musibah yang tersusun secara structural ini menciptakan prasangka – prasangka, agar masyarakat ini tak pernah diberikan kesempatan untuk berjuang. Dan akhirnya kalah oleh subyektif buatan para pembuat konstelasi. Sekali lagi para pembuat konstelasi melakukan cheers, bersulang menikmati kesenangan diatas penderitaan masyarakat
Masyarakat yang pada akhirmya jadi korban angin surga para pemain dikalangan elite. Masyarakat yang tak henti-hentinya dijadikan alat untuk mereka yang memperebutkan kursi. Masyarakat hanya objek nafsu pelampiasan oleh subyek mereka yg haus kekuasaan. Dan akhirnya masyarakat hanya tinggal hidup dan menikmati udara sesak kemiskinan hingga mati berkalang tanah, karena tak sanggup membayar tempat tinggal terakhirnya.
Masyarakat selalu dikalahkan yg selalu menjadi korban keganasan para pendulang derita, lebih khusus lagi masyarakat yang dipiinggirkan, hati dan nuraninya. Sejarah menciptakan endapan – endapan kolektif agar masyarakat ini selalu terpinggirkan. Tidak disisakan secerca harapan dan asa untuk melanjutkan kehidupan. Musibah yang tersusun secara structural ini menciptakan prasangka – prasangka, agar masyarakat ini tak pernah diberikan kesempatan untuk berjuang. Dan akhirnya kalah oleh subyektif buatan para pembuat konstelasi. Sekali lagi para pembuat konstelasi melakukan cheers, bersulang menikmati kesenangan diatas penderitaan masyarakat
Para pendulang derita
ini tentu tidak akan kehabisan akal untuk mengeksploitasi rakyatnya sendiri.
Para pemimpin wajib melakukan kampanye atas nama kemiskinan. Berorasi dan berpidato
mengolah kata menjadi kalimat pamungkas akan melakukan serangkaian program
menaikkan derajat masyarakat pinggir. Dan tetaplah hingga saat ini masyarakat
pinggir ini selalu terpinggirkan. Pemerintah mengeluarkan kebijakan – kebijakan
anti kemiskinan, serangkaian program dikeluarkan. Beragam macam metode
diterapkan. Kenyataannya, ada banyak manipulasi, sekian miliar dikorupsi, dan
reduksi moral yang menjadi – jadi dan telah menjadi kebudayaan kolektif para
pendulang derita. Dan tetaplah masyarakat yang harus mengalah dan wajib kalah.
Lembaga
atas nama social banyak bertebaran. Eksploitasi masyakarakat pun makin
menjadi. Ayat suci mulai direduksi maknanya dengan dalih pengentasan
kemiskinan. Padahal sejatinya hanya memperluas kapitalisme dan mempertebal
kemiskinan – kemiskinan structural. Orang – orang “bertuhan” memberikan asa
untuk bangkit melawan hal ini. Tapi tetap yang dicari adalah keuntungan pribadi
dan akhirnya masyarakat pinggirlah yang harus menyerah.
Ketika
tanah mereka, tempat dimana bibit dan tunas bangsa lahir. Itu dihancurkan dan
disamaratakan dengan tanah, sekali lagi mengatasnamakan perbaikan kehidupan,
ekonomi, sosial dll. Tidak berani datang, dan duduk memberikan solusi terbaik
ke tempat tersebut.
Dan
pada akhirnyalah masyarakat yang harus mengalah dan wajib kalah, karena
selalu terpinggirkan, hati dan nuraninya sehingga akan selalu redup dan buram
masa depan mereka kedepannya.
Mereka
tidak bisa lagi berharap pada kemungkinan – kemungkinan untuk menang. Selalu terus
menjadi binatang bodoh yang selalu dikelabui dan dimonopolisasi. Sekian banyak
negeri ini mengeluarkan pemimpin. Hasilnya akan tetap sama, masyarakatlah yang
pada akhirnya selalu berada dalam kondisi dipinggir tepian jurang
ketidakberdayaan kehidupan. Dan masyarakat itu adalah kita sendiri.
Jadi anda mengatakan kemiskinan lahir dari pemerintah??
BalasHapusJadi anda mengatakan kemiskinan lahir dari pemerintah??
BalasHapusdalam hal ini. yes
BalasHapus