Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2020

Monolog #3

Hi, Ingatkah kamu saat kita pernah sedekat nadi, sebelum sejauh matahari dulu?. Aku tahu, semua itu hanya jadi khayalku, kamu sudah berada jauh bahkan hanya untuk sekedar angan. Ketika kita masih bisa asik bercengrama via telpon. Menertawakan hal kecil yang di alami masing-masing dari kita. Berbagi sisi gelap dari seluruh kisahku dan kisahmu hingga tak sadar shubuh sudah menjelang. Namun, sebelum waktu itu seraya mendengarkan lagu yang kamu beri. Ku cari spotify dan mencari lagunya, ternyata, lagu itu benar-benar telah menduduki ruang di ulu hati. Sebuah lagu dari Banda Neira yang berjudul Sampai Jadi Debu tak berhenti menusuk kalbu. Aku pernah bilang kalau lagu itu mewakili perasaanku. Sampai sekarang. Bahkan ketika aku tak lagi mampu hanya sekedar menatap-mu karena aku sadar, kau sudah hilang dari jangkauanku. Ketika "kita" berganti aksara menjadi individu yang berbeda. Bahuku ternyata tak cukup memberikan kenyamanan untuk kau bersandar sambil mendengar keluh kesah mu...

Chopin - Nocturne Op.9 No.2

Aku tak tahu mengapa lagu ini membawaku kepada sebuah khayalan. Khayalan yang membawaku pada sosok wanita anggun nan mempesona hadir di muka. Ia mengajakku berjalan kepada sebuah taman. Tumbuh banyak pepohonan dan daun berguguran seperti di musim panas di Eropa. Digenggamnya tanganku dan kemudian mengajak diriku berlari menikmati rindangnya pohon-pohon dan daun-daun jatuh melandai ke tanah. Tiba-tiba, wanita itu tampak tersenyum seraya berkata. "Aku beruntung berada disampingmu", senyum wanita itu melihat diriku. Aku tersenyum mengiyakan, ia pun tersenyum. Tanganku kembali ditarik olehnya. Perlahan-lahan ku ikuti langkah kakinya. Mengitari taman sambil bercengkerama apa saja yang kita lihat di depan mata. Bertatap muka lalu tersenyum dan kita selalu mengulanginya ketika sepasang mata kita berdua beradu. Selama berjalan kita tak banyak berkata-kata hanya perasaan ku dan perasaannya yang berbicara, ku bisa rasakan lewat jemari-jemarinya yang lembut dan hangat memegang erat tang...

Monolog #2

Telan malam yang penuh rindu. Pendam semua dalam hati kecilku. Pernah kah aku melewatimu disela fikiranmu, atau hanya sekedar hadir dalam lamunanmu? Kau selalu disimpan dengan baik dalam ingatan. Ku rawat dengan doa dan ku pupuk dengan harapan. Agar ia tumbuh, tak mudah rapuh, terus menjulang, tak terbayang. Hingga tak lagi tahu dimana ujungnya. Begitulah perasaanku, terhadapmu. Yang entah dimuara mana akan berakhir. Berujung kebahagiaan atau tergeletak di bibir jurang keputusasaan. Seringkali mengutuk diri dengan tidak mengutarakan. Terus meng-Ego-kan diri, Terus tidak peduli. Bicara soal harga diri, tapi selalu membohongi diri. Aku ingin bercerita, berdua, bersama. Tanpa jeda, tanpa koma, tanpa titik. Namun, selalu tertampar realita, sadar bahwa aku hanya buku yang berada di pojokan dalam kehidupanmu. Aku hanya pengemis lampu merah, demi mendapatkan perhatian, ku lakukan apapun demi mendapat seutas senyuman yang merekah. Bisakah kita bertemu walau sesaat atau hanya sekeda...

Monolog

I didnt know much about love I know nothing about it Till im falling so hard into you. Aku tidak tahu bagaimana cara memulai tulisan. Tulisan-tulisanku dulu juga muncul karena ketidaktahuanku yang dituang menjadi bait yang kata demi kata kujahit dengan hati-hati. Baris per baris kuperhatikan dengan seksama lalu diatur kembali menjadi kepingan puzzle kata-kata dan akhirnya menjadi sebuah kalimat-kalimat yang bermakna, itu menurutku. Kalau pun tidak bermakna, setidaknya aku berusaha bermakna dimatamu. Walau seringkali kehadiranku dianggap semu oleh dirimu. Selalu ada hal dibalik sesuatu. Akan terus ada sebab yang melahirkan akibat. Entah ada atau tidak alasan tersebut. Adanya pun setiap manusia punya alasan mengapa itu terjadi. Pun halnya tidak ada, kita bisa menerjemahkannya ke dalam batin masing-masing. Setiap orang berhak punya alasannya masing-masing. Terserah kamu, tidak ada yang melarangnya.  Menyukaimu misalnya, aku tidak pernah punya kata-kata untuk mengungkapka...