Kodrat


Suatu hari dalam sebuah diskusi di sebuah universitas, seorang mahasiswa mengeluarkan pikirannya dengan berapi-api “ Hey kalian semua, siapakah makhluk yang bernama universitas? Ialah gudang pemecah persoalan yang serba ragam dan kompleks masalahnya, yang mampu menyodorkan berbagai jawaban atas pertanyaan kehidupan.

Siapa universitas? Yaitu, berkumpulnya orang-orang cerdas  yang tak pernah lelah mengamati lingkungannya, anti kemapanan dan anti kejumudan, yang tak memiliki sedikit pun untuk tidak melihat persoalan di sekitarnya.

Siapa universitas? Ialah mata bayi, bening dan jujur, mengamati dan menatap setiap kebenaran dari kenyataan. Ialah mata orang dewasa yang tegar dan setia terhadap nilai-nilai kebenaran, betatapun menyakitkan. Ialah mata orang tua yang bijak, yang sudah kenyang beban dan derita yang dipikulnya kebenaran yang layak dipertahankan.

Siapa universitas? Yaitu, kertas-kertas yang tersusun atas pertimbangan adil, setia terhadap idealisme yang diembannya serta menjadi penggerak yang hampir mampu mengatasi manipulasi kebenaran dari kenyataan”.

Lalu, ia mengusap bibir yang berbusa dan melanjutkan “ tetapi yang terjadi sekarang berbeda, kutu-kutu lebih rajin baca buku daripada mahasiswanya, gadget hampir tak lepas dari genggaman, lebih sering mengeluh daripada tegak menghadapi kenyataan. Mahasiswa hanya jadi komoditas eceran di pasar ilmu. Saat mereka jalan-jalan, telinga dan mata mereka pasang, sedangkan otaknya mereka simpan di brankas besi.

Mereka hanya menjadi tumpukan-tumpukan kertas di mesin cetak, onderdil yang ditumpuk dalam tabung-tabung, diberi minyak pelumas untuk suatu saat nanti siap menjadi pelumas mesin birokrasi yang kapitalistik. Mereka jadi korban, banyak yang tidak mencintai universitas kecuali hanya untuk prestise, ijazah yang diberikannya.  

Begitu banyak mengubah kodratnya dirinya. Begitu banyak yang terlalu merelakan dirinya untuk bergabung dalam elite diluar dirinya, dikontrol dan dibina. Begitu banyak yang mencoba untuk menjadi bagian dari elite tersebut. Begitu banyak juga yang berlaku tidak adil!”

Seorang mahasiswa tak lagi tahan dengan ocehannya dan tak bisa lagi tahan dengan kemarahannya. Ia berdiri “Cukup! Harap kamu hentikan permainan kata-kata yang mengandalkan retorika itu. Yang kamu kemukakan itu tidak mempunyai kredibilitas ilmiah. Tidak ada referensi dan hanya subyektif belaka dan tidak didasari fakta yang konkret. Tidak bisa dipertanggungjawabkan!”

Inspired by Emha Ainun Nadjib

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencintaimu dengan Sederhana

Cerita Malam Tahun Baru

Menikmati Rindu