Cerita Malam Tahun Baru



Dengan ini, ingin aku mengenang sesuatu yang sebenarnya tidak ingin aku ceritakan. Sebuah kisah pilu yang sampai saat ini masih terasa ngilu. Kisah yang mungkin terdengar lazim di tengah-tengah romansa masa remaja. Kepingan kisah yang mungkin terdengar remeh-temeh, tetapi dengan hal itu memberi denyut kehidupan. Semoga dengan apa yang dirangkai menjadi sebuah tulisan ini menjadi sebuah media untuk kita bisa saling memahami.

Dia, perempuan yang pertama kali ku jumpai saat masa orientasi datang menghampiri, seseorang yang berhasil membuat hatiku jatuh se-jatuh-jatuhnya tanpa berpikir dua kali. Dia berhasil menghipnotisku sejak berjumpa pada tatapan yang pertama.

Entah mengapa aku tidak tahu bahwa jatuh cinta itu tidak mengenal alasan. Ketika aku berusaha menjelaskan, hanya kelu yang menyerbu, kata-kata jadi buntu dan pikiran jadi tak menentu. Begitulah saat aku bertatap muka dengannya. Pelan-pelan mencari tahu nama dan seluk beluk kehidupannya dan mulai mencari perhatiannya dengan berharap ia akan memberi perhatiannya kepadaku.

Pertemuan kita terus terbata-bata. Ketika menyapa dan bertatap muka, aku tidak tahu harus memulainya darimana. Pembicaraan kita seringkali sia-sia dan berujung tanpa makna. Tetapi, dari situ aku berharap engkau sedikit membuka pintu hatimu karena aku lelah terus-menerus melanglang buana.

Aku berusaha mencari dengan harapan bahwa kita akan berbagi sisi gelap dalam diri kita dan mencoba memahami satu sama lain walau tak bisa dipungkiri, ada banyak hati yang terus ingin menggapai sanubari dirimu yang tenang dan menghangatkan. Dan aku hanya sekian orang yang kau anggap hanya berlalu-lalang. Mengutip Charil Anwar, aku hanya binatang jalang.

Meskipun ku tahu,hari demi hari aku harus menerima bahwa kenyataannya kau juga menyisakan sedikit ruang hati untuk orang lain. Sangat sulit ku terima bahwa dihadapanku kau berbagi tawa bukan denganku, tapi dengan orang lain. Semua itu terus terjadi berulang kali dan hampir setiap hari ku alami.

Setelah segalanya, lalu apa yang bisa dan pantas disebut harapan jika mengungkapkan perasaan hanya berujung kesia-siaan. Bayang-bayang masa depan bersamamu hanya menemui kehampaan. 
 
Lalu, mengapa kau selalu memberi perhatian walau akhirnya ku tahu pada akhirnya akan bertemu pada satu hal, yaitu dilupakan.

Dan aku mulai sadar bahwa aku hanya sisa-sisa dari ruang hatimu yang sengaja kau simpan hanya untuk pelampiasan.

Tetapi, aku berterima kasih padamu atas segalanya
Sayangnya, aku tidak tahu apakah perasaanmu sebenarnya nyata atau kamu tidak pernah ada rasa untukku?


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencintaimu dengan Sederhana

Menikmati Rindu