Monolog #2
Telan malam yang penuh rindu. Pendam semua dalam hati kecilku. Pernah kah aku melewatimu disela fikiranmu, atau hanya sekedar hadir dalam lamunanmu?
Kau selalu disimpan dengan baik dalam ingatan. Ku rawat dengan doa dan ku pupuk dengan harapan. Agar ia tumbuh, tak mudah rapuh, terus menjulang, tak terbayang. Hingga tak lagi tahu dimana ujungnya.
Begitulah perasaanku, terhadapmu.
Yang entah dimuara mana akan berakhir.
Berujung kebahagiaan atau tergeletak di bibir jurang keputusasaan.
Seringkali mengutuk diri dengan tidak mengutarakan. Terus meng-Ego-kan diri, Terus tidak peduli. Bicara soal harga diri, tapi selalu membohongi diri.
Aku ingin bercerita, berdua, bersama. Tanpa jeda, tanpa koma, tanpa titik. Namun, selalu tertampar realita, sadar bahwa aku hanya buku yang berada di pojokan dalam kehidupanmu. Aku hanya pengemis lampu merah, demi mendapatkan perhatian, ku lakukan apapun demi mendapat seutas senyuman yang merekah.
Bisakah kita bertemu walau sesaat atau hanya sekedar lewat demi menyembuhkan luka yang sudah gawat?
Kau tahu, aku hanya lelah berpura - pura tegar.
Komentar
Posting Komentar