Monolog #3
Hi,
Ingatkah kamu saat kita pernah sedekat nadi, sebelum sejauh matahari dulu?. Aku tahu, semua itu hanya jadi khayalku, kamu sudah berada jauh bahkan hanya untuk sekedar angan.
Ketika kita masih bisa asik bercengrama via telpon. Menertawakan hal kecil yang di alami masing-masing dari kita. Berbagi sisi gelap dari seluruh kisahku dan kisahmu hingga tak sadar shubuh sudah menjelang. Namun, sebelum waktu itu seraya mendengarkan lagu yang kamu beri. Ku cari spotify dan mencari lagunya, ternyata, lagu itu benar-benar telah menduduki ruang di ulu hati. Sebuah lagu dari Banda Neira yang berjudul Sampai Jadi Debu tak berhenti menusuk kalbu.
Aku pernah bilang kalau lagu itu mewakili perasaanku. Sampai sekarang. Bahkan ketika aku tak lagi mampu hanya sekedar menatap-mu karena aku sadar, kau sudah hilang dari jangkauanku. Ketika "kita" berganti aksara menjadi individu yang berbeda. Bahuku ternyata tak cukup memberikan kenyamanan untuk kau bersandar sambil mendengar keluh kesah mu tiap waktu. Tapi ternyata, itu dulu.
Saat merindukanmu, hal kesekian yang ku lakukan dengan mendengarkan lagu ini sambil memejamkan mata sebentar. Efek tenang yang terasa kejam. Percayalah, ada banyak rindu yang berusaha keras untuk membongkar pertahananku. Pun ketika aku mengetik ini. Ada banyak kata yang tak bisa tersingkap dan makna yang tak bisa dijelaskan secara sederhana dan perasaan ini tak bisa dituangkan. Kamu tahu, rindu itu ternyata sangat kejam.
Dan untuk kamu, yang suatu saat mampir dan kebetulan membaca ini.
Apa kabar? Sedang apa? Bagaimana keadaanmu? tak henti-hentinya ku mendoakan kesehatan dan kebaikan melimpah ruah kepadamu.
Begitu banyak hal yang ku ingin tanyakan dan rangkaian kata yang kuingin ceritakan. Namun bibir ini kelu, maaf atas hal-hal kecil yang membuatmu marah. Atas niat baikku yang selalu kau pandang salah, Aku sering berdialog, meski sebetulnya hanya satu arah.
Kita pernah melengkapi satu sama lain. Degup kita pernah seirama. Doa kita pernah satu rupa, angan kita pernah tak hendak melepas. Aku hanya bisa menitipkan surat di sudut cakrawala berharap kau baca. Atau jika tidak pun kau tahu bahwa hari ini aku memikirkanmu.
Aku tak tahu lagi dirimu ada dimana. Sudah lama kita tidak berusaha untuk saling menghubungi. Dilangit yang engkau tatap disitu ada rindu yang aku titip, katamu dahulu kala. Ceritakanlah kisahkanlah lagi semua peristiwa yang kau lalui padaku. Sunggguh, aku rindu.
Sekarang, apabila kamu telah menemukan penggantiku, seseorang yang menjaga hatimu secara utuh. Bukan seperti ku yang hanya tahu cara mematahkan berkali kali. Berbahagialah. Ku harap aku pun dapat berbahagia menyertaimu.
Oh ya ada satu rahasia ingin aku beritahu padamu sejak lama; aku mencintaimu, seluas ikhlasku merelakanmu :)
Youtube comment section has inspired me
Komentar
Posting Komentar