Monolog
I didnt know much about love
I know nothing about it
Till im falling so hard into you.
Aku tidak tahu bagaimana cara memulai tulisan. Tulisan-tulisanku dulu juga muncul karena ketidaktahuanku yang dituang menjadi bait yang kata demi kata kujahit dengan hati-hati. Baris per baris kuperhatikan dengan seksama lalu diatur kembali menjadi kepingan puzzle kata-kata dan akhirnya menjadi sebuah kalimat-kalimat yang bermakna, itu menurutku. Kalau pun tidak bermakna, setidaknya aku berusaha bermakna dimatamu. Walau seringkali kehadiranku dianggap semu oleh dirimu.
Selalu ada hal dibalik sesuatu. Akan terus ada sebab yang melahirkan akibat. Entah ada atau tidak alasan tersebut. Adanya pun setiap manusia punya alasan mengapa itu terjadi. Pun halnya tidak ada, kita bisa menerjemahkannya ke dalam batin masing-masing. Setiap orang berhak punya alasannya masing-masing. Terserah kamu, tidak ada yang melarangnya.
Menyukaimu misalnya, aku tidak pernah punya kata-kata untuk mengungkapkannya. Bibir tiba-tiba kelu, pikiran jadi ragu, mental jadi rapuh ketika berusaha untuk merapalkannya. Aku selalu menyampaikan lewat mataku, sikapku, senyumku, apapun itu asalkan kamu memberi perhatianmu padaku. Aku tidak berani menyampaikannnya lewat kata-kata. Menurutku, kata-kata terbatas untuk menjelaskan sebuah perasaan. Maka menyimpannya adalah sebuah langkah terakhir. Karena yang ku bisa hanya itu. Memendamnya, terbalas atau tidak, itu adalah soal lain. Ada sebuah kenikmatan tersendiri ketika melihatmu dari kejauhan.
Apakah kenikmatan itu, entahlah. Aku sendiri masih sulit untuk merumuskannya. Kalau aku disuruh mencari kenikmatan itu, aku rela berlama-lama untuk menatapmu, Menggambarkan senyummu, melihatmu dalam balutan kesederhanaan tanpa riasan wajah tak bermakna. Kalau disuruh memujimu. Aku tak tahu akan memujimu darimana. Karena kamulah pujian itu. Walau aku sadar, aku hanya angin yang sesaat menyejukkan yang pada akhirnya terlupakan. Ia berhembus, dingin, menggigil kesendirian. Hilang begitu saja, setidaknya bukan harapanku kepadamu
Keinginanku sederhana, kalo diibaratkan menjadi sebuah jarum pentul, aku ingin jadi jarum pentul yang menyangkut dibalik kerudungmu, yang kau cari penuh kepanikan, yang kau pasangkan dengan penuh ketelitian dan yang kau tanggalkan dengan penuh kehati-hatian.
Aku sadar aku tidak istimewa, aku hidup seperti kebanyakan orang pada umumnya, berpikiran biasa dan tak jauh berbeda. Tidak ada hal yang kuistimewakan, apapun itu. Jika aku betah berlama-lama mengobrol denganmu. Bersedia untuk berbagi kisah dan bersemangat saat bercerita denganmu, maka sudah jelaskan aku tak perlu mengungkapkan perasaanku, bukan?
Kamu seperti filsafat, ia adalah sebuah perjalanan tak berujung, sejauh bisa mengenangmu, maka perjalanan mengenang dan merindumu tidak bisa dihentikan.
Komentar
Posting Komentar